Assalamu`alaikum

Assalamu`alaikum
"Tuhan, aku sadar hidup hanyalah perjalanan sementara, maka izinkanlah aku mengisi waktu yang sementara ini dengan kebaikan & kebahagiaan cinta kasih yang Kau Ridhai. Dan kembali pada Mu dengan segala keberkahan"

Minggu, 16 Desember 2012

More than love


 Ini adalah amanah seorang ibu yang begitu kehilangan putra bungsu kesayangannya. Ketika beliau mendengarkan ceritaku dan memintaku untuk menulisnya suatu saat nanti, aku tau beliau begitu ingin putranya dikenang selamanya. Hal yang pasti aku lakukan tanpa diminta. Walau ternyata ibu cuma mampu menahankan kehilangannya selama 5 bulan, dan menyusul kepergian putranya, aku merasa amanah ini harus tetap aku jalankan. Tidak ada yang aku sesali, walau kekuatan ini baru terkumpulkan sekarang.
            Hari senin itu dimulai dengan kegiatan sahur. Seperti biasa membangunkan bang Aka sahur, dan bersiap menemaninya (waktu itu aku puasa selang-seling karena menyusui). Zia ikut terbangun, dan entah kenapa aku membawanya ke meja makan dan mengatakan padanya untuk menemani ayah makan sahur. Dan itulah kali pertama dan terakhir zia menemani ayahnya makan sahur, kami sahur bersama layaknya keluarga. Setelah sholat subuh, semua berlangsung biasa, canda yang biasa.
Dan sebelum kembali tidur, bang Aka berpesan untuk membangunkannya lebih cepat karena ada kerjaan yang harus segera dia selesaikan, dan mengeluh kepalanya terasa berat, dari malam dia mengeluhkan itu. Sebagai seorang wanita yang terkadang hanya punya kekuatan dari ucapan, aku berkomentar panjang tentang pola hidupnya dimana kelelahan otaknya tidak pernah diimbangi dengan kegiatan fisik, suamiku sering menolak setiap aku ajak sekedar jalan pagi.
            06.30 pagi ketika aku terbangun, aku harus mengajar pagi itu dan masih ada materi pelajaran yang harus aku siapkan. Melihat suamiku tertidur pulas, kemudian mengingat pesannya, aku hanya berpikir ingin memberikannya kesempatan istirahat, maka aku tidak membangunkannya. Aku hidupkan computer, namun tidak hidup, berkali-kali kucoba tetap tidak hidup (dan kejadian yang sama terulang ketika bapak menyusul 2 tahun 6 bulan setelahnya, ketika laptopku untuk pertama kalinya hang dan benar-benar mati).  Sampai hampir putus asa karena computer tak kunjung hidup dan aku ingin membangunkan bang aka, namun kucoba lagi, hingga akhirnya hidup.
            07.00, suamiku memanggil dengan suara pelan, hampir tidak terdengar. Aku mendatanginya. Bang Aka mengeluh kepalanya semakin sakit, aku membantunya duduk, sedikit memijat leher, pundak dan kepalanya. Bang Aka masih ingat memanggil adikku untuk membawa Zia keluar dari kamar, entahlah mungkin dia tidak ingin Zia melihat kesakitannya. Bang Aka kemudian mengeluh mual dan mau muntah, setelah dia muntah, aku menyarankan untuk membatalkan puasanya, suamiku setuju. Aku membuatkan teh manis kesukaannya, tidak pekat dan manis. Bang Aka minum beberapa teguk. Kemudian dia minta tidur kembali, aku membantunya.
            Kupikir suamiku akan tertidur sebentar, maka aku keluar dan menelepon seorang teman unutk memungkinkan membawanya ke rumah sakit haji. Saat aku kembali ke kamar, suamiku sedang berusaha untuk turun dari tempat tidur, aku melihat ketika tubuhnya terhempas ke lantai dalam posisi duduk, aku tidak sempat menangkap badannya. Aku baru sadar kemudian, saat itu kakinya sudah tidak lagi sanggup menopang tubuhnya. Aku sempat marah karena itu berbahaya. Saat itu ibu dan ayah masuk ke kamar, ibu memijat punggungnya, ayah hanya melihatnya.
            Dan saat itu dia berkata “Aka minta maaf ya, Bu. Aka minta maaf ya, Yah,” tapi dengan suara celat, mungkin sepersekian detik aku sempat terpana dan berpikir ‘STROKE?’.
 Tapi kemudian bang Aka mendesak untuk meminta maaf pada abang tertuaku, dan mendesakku untuk menelepon salah seorang kawan kantornya, dengan nada sedikit marah karena tidak sabar, atau mungkin karena kesakitannya atau karena celatnya, entahlah. Adikku menelepon abang tertuaku dan menyampaikan pesan bang Aka, aku menelepon kawan kantornya. Aku hanya mengatakan bang Aka sakit, mungkin akan dibawa ke rumah sakit, dan dia minta temannya datang untuk mengambil flashdisc, agar kerjaan bisa dilanjutkan. Betapa sampai akhir hayatnya pun bang Aka begitu menanggungjawabi pekerjaannya.
            Aku kemudian segera meminta ayah dan ibu bersiap untuk mengantar ke rumah sakit. Abang keduaku mengeluarkan mobil, aku mengambil tensi mencoba menensinya. Saat kupasang manset, mencoba mencari detak nadinya, bang Aka tiba-tiba sudah tidak sadar dan mengorok. Aku tidak lagi bisa meraba detak nadinya mungkin karena panik, batinku. Aku segera melepas manset tensi, mengganti bajunya, tapi tidak celana pendeknya karena aku enggak kuat mengangkatnya. Tidak ada satu helaipun baju yang aku siapkan layaknya mau mempersiapkan untuk opname, aku hanya berpikir segera membawanya ke rumah sakit.
            Aku kembali meminta ayah dan ibu bersiap cepat karena bang Aka sudah tidak sadarkan diri. Segera ayah dan abang membawanya ke mobil.  Abangku nyetir, ayah di sebelahnya. Bang aka di bangku kedua, ibu di sebelahnya dan aku di belakang, tepat di sisi kepalanya.
            “Ade  minta maaf, Bang. Ade ridho…. Lailaahailallah…..” hanya itu kata yang kuingat kubisikkan di telinganya… entah berapa kali….. hingga tiba-tiba ibu mengagetkanku…
            “Kakinya, yah, kakinya,”spontan kami melihat kakinya, namun aku tidak sempat melihat apapun, “Coba dipijat, yah,” kata ibu kemudian.
Belakangan aku tau pada saat itu kakinya tiba-tiba menegang, dan mungkin pada saat itulah malaikat maut berada didekat kepalaku, mencabut nyawa suamiku.
            Saat aku kembali melihat wajahnya, air mata mengalir dari matanya, entah apa yang kupikirkan waktu itu, aku hanya menghapus air matanya.
            “Cari rumah sakit terdekat, enggak usah ke rumah sakit haji,” kataku.
            “Udah ke sufina azis aja,” usul ayah dan segera kuiyakan.
            Entah apa yang kupikirkan saat itu, tapi yang pasti aku perawat, dan mungkin saja aku sudah tahu kebenaran, tapi…… Entahlah mungkin tiada seorang istri yang sanggup mendiagnosis kematian suaminya.
            Sampai rumah sakit sekitar jam 8 kurang. Tubuhnya segera dipindahkan ke brankat. Di ruang IGD, perawat memberikan oksigen dan segera mengambil tensi untuk menensinya. Perawat kesulitan mencari nadinya, spontan aku memegang kakinya, mencoba mencari nadi disana, dan entahlah, aku masih merasakannya.
            “Sudah tidak teraba ya, kak, disini teraba,” ucapku berusaha sabar. Perawat melihatku, “Sabar ya, bu,” Cuma itu jawabannya.
            Ayah, ibu dan abangku menunggu di depan IGD. Aku sendiri mendampinginya, berusaha tenang, tapi aku baru sadari saat itu aku tidak bisa diam memperhatikan wajah suamiku, aku terus berjalan di seputar tempat tidurnya, mungkin itulah wujud kegelisahanku. Perawat lain datang membawa senter, dan menyenter matanya.
            “Pupilnya sudah melebar ya, kak?” tanyaku, dan pada saat itu mungkin mereka sadar aku juga  tenaga kesehatan. Kembali jawaban yang sama kudengar.
Saat kemudian perawat mencoba memberikan bantuan dan memijat jantungnya, aku segera benar-benar tahu apa  yang terjadi. Tapi entahlah aku tetap tenang, mendekati perawat, menepis tangannya, dan meletakkan tanganku di atas dada suamiku, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hidupku, aku memijat jantung manusia, dan itu suamiku.
 Pijatan pertama, mulut suamiku terbuka, positif aku berpikir dia mencari udara, kedua tidak ada respon, ketiga, keempat, seterusnya tidak ada respon. Aku tidak tahu sampai kapan, aku berhenti, kemudian memandangnya, dan entah apa yang aku pikirkan. Saat menatap wajah tidurnya.
            Jam 8.10 menit dokter datang. Aku segera memanggil ibuku, aku bukan merasa tidak kuat mendengarkan apa yang akan disampaikan dokter, aku hanya merasa tidak mampu  bila harus menyampaikan kebenaran pada keluargaku. Dokter memeriksa, dan vonis itu datang.
            “Ini sudah meninggal, dari di jalan tadi kayaknya,” entah apa yang aku pikirkan mendengar itu, entah…. Seingatku ibu menangis, entahlah, hanya aku tidak menangis. Segera yang aku ingat adalah pikiran bagaimana memberitahukan mertuaku. Otakku berpikir, saat perawat bertanya akan dibawa kemana, tenang aku menjawab alamat mertuaku, sambil terus berpikir bagaimana cara memberitahukannya. Dan aku sempat meminta ibu menanyakan administrasinya. Ya tangisan ibu berhenti, mungkin karena melihat aku tidak menangis.
            Aku segera berpikir memberitahukan lewat kakak ipar, tapi aku tiba-tiba kehilangan cara mencari nomor teleponnya. Segera aku menelepon rumah mertua, karena itu nomor yang kuhapal. Bapak menerima teleponku, setenang apapun aku bertanya nomor kak non, bapak sepertinya tahu kalau ada sesuatu, tiba-tiba bapak  yang masih mempunyai ingatan baik diusianya yang 79 tahun lupa nomor anaknya. 
Aku segera minta izin menutup telepon dan mencari nomor telpon di phonebook hp, ternyata ada. Aku segera nelepon kakak. Aku tidak ingat bagaimana kakak menjawab telponku, aku hanya ingat saat bilang “Kak, bang aka sakit,”
            “Oya, sakit apa?” tanya kakak santai.
            “ Enggak tahu sakit apa kak, tadi kami bawa ke rumah sakit maksudnya mau opname,” tidak mudah mencari kata-kata.
            “Rumah sakit mana?” tanyanya lagi.
            “Rumah sakit sufina azis, kak, di karya, tapi waktu kami sampai sini, kata dokter bang aka udah enggak ada, kak,” salah satu hal tersulit adalah pertama kali mengatakan dan mengakui secara lisan suamiku sudah meninggal dunia, dan kak non orang pertama yang mendengar aku mengatakan itu. Pertama kalinya aku meneteskan air mata.
            “Serius de?” tanyanya mulai terisak. Ya allah, akulah orang yang paling ingin bahwa semua ini hanya canda, hanya  pura-pura….
            “Iya, kak, bang aka meninggal” aku kembali terisak pelan, “Mau dibawa kemana, kak?” aku kembali tenang, berusaha menguasai diri.
            “Bawa kesana aja,” jawab kakak menyatakan kerumah orang tuaku. Otakku masih berpikir jernih.
            “Kalo dibawa kerumah ayah, bagaimana bapak, kak, bapak enggak mungkin tidak melihat bang aka untuk terakhir kalinya,” jawabku. Ya bapak sudah tidak mampu berjalan. Kecelakaan yang menimpanya pada tahun 2003 membuat beliau harus terduduk di tempat tidur.
            “Lagian semua keluarga taunya kesana,” lanjutku, dan akhirnya kakak menyetujui saranku
            Aku tidak pernah suka ambulance, buatku suara sirene selalu identik dengan kesedihan. Dan seingatku ini kali pertama aku berada di dalamnya, bersama ibu, dan suamiku… Ahhh tidak mudah menyebutnya almarhum, tidak pada saat itu…
            Aku tidak sungguh ingat apa yang aku rasakan, tapi yang pasti aku menelepon untuk mengabari beberapa orang, sahabatku, teman kerjaku, teman kerja suamiku, dan sahabat suamiku yang aku kenal. Terkadang dengan nada datar hingga beberapa orang seperti tidak percaya, terkadang dengan sedikit terisak saat aku berbicara pada sahabat-sahabat baikku yang begitu mengenal aku dan suamiku.
Ketika dibelokan terakhir mendekati rumah mertua, aku meminta supir ambulance untuk mematikan suara sirene. Aku masih belum pasti apakah mertuaku sudah menerima kabar ini. Bahkan aku meminta supir untuk menurunkan aku lebih dulu sebelum mobil di putar balik. Tidak tau apa yang akan aku lakukan, tapi setidaknya aku merasa harus berani menghadapi semua.
            Aku melihat ibu, yang kemudian menghambur memelukku, menangis.
            “Bontot, de,” isaknya membisikkan panggilan kesayangan keluarga pada si bungsu. Aku memeluk ibu, sedikit terisak, dan melihat sekitar, rumah ini telah siap menerima kehadiran suamiku.
            Dua buah tilam telah diletakkan di tengah rumah, menghadap ke kiblat, tempat sementara suamiku melanjutkan tidurnya. Zia yang sudah beberapa saat tidak melihat kami menyambutku dengan ceria, masih sempat dia mencoba mengganggu tidur ayahnya, seperti biasa dia berusaha membangunkannya dan mengajak bermain. Dan aku menutup mata dan telinga dari sekitar, aku tidak ingin melihat tatapan mereka, aku tidak ingin mendengar ucapan mereka yang aku tau isinya pasti mengasihani aku dan zia. Aku hanya ingin melewati detik-detik kebersamaan kami dengan baik.  Namun saat wajah ayahnya mulai pucat dan dingin, zia tidak lagi perduli dan tidak lagi meminta untuk dekat dengan ayahnya.
            Ketika ibu memintaku untuk makan. Aku mengikuti langkah ibu ke ruang makan. Memakan roti dan secangkir teh manis hangat yang telah disiapkan untukku. Bukan karena aku merasa lapar, aku hanya tidak ingin pingsan dan kehilangan momen-momen terakhir kami. Aku harus memastikan semua proses berjalan dengan baik untuk suamiku, mungkin bentuk pengabdian terakhirku.
            Ini kali pertama aku mengikuti segala proses pengurusan jenazah. Aku ikut memandikannya, kali terakhir, dan aku ingat pernah memandikan saat suamiku sakit. Aku melihat saat suamiku dipakaikan kain kafan, aku ikut memegang kain panjang untuk menutupinya, dan kala itu kata hatiku berbicara padanya.
            “Begitu tenang abang pergi, pasti karena abang sangat mempercayai ade, maka ade akan jaga kepercayaan abang. Ade dan zia akan melanjutkan sisa hidup kami dengan sebaik-baiknya, ade akan berusaha menjadikan Zia sholehah seperti amanah abang. Ade mampu, bang, dan ade tau abang mengenal ade dengan sangat baik, dan abang pasti tau ade mampu. Allah akan membantu kami,” entahlah, kata-kata itu meloncat begitu saja dari hatiku. Untuk melepas kepergiannya dengan tenang, atau untuk menenangkan hatiku, entahlah…… Menciumnya untuk terakhir kalinya, mengelus alis tebalnya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, berharap mencium aroma khas tubuhnya, tapi parfum yang diberikan bilal membuat aku menyadari… Suamiku tidak lagi disini….
            Aku mengantar ketika dia disholatkan di mesjid, dan tiada penyesalanku dengan keadaanku yang tidak memungkinkan untuk ikut mensholatkannya. Aku hanya ingin memastikan semua proses berjalan baik. Dan saat jenazahnya diantar ke pemakaman, aku hanya melihatnya, karena ustadz sudah menyampaikan diujung pengantarnya, bahwa haram seorang wanita ikut ke pemakaman, maka tidak ada satupun dari kami yang mengikutinya, temasuk aku.
            Dan itulah terakhir aku secara fisik berdekatan dengan suamiku….  Saat kerandanya semakin jauh… Tangisanku meluap saat aku memeluk buah hati kami dan menyusuinya.
Saat aku bertanya pada diriku sendiri, “Bagaimana aku, bagaimana anakku, bagaimana kami?”.
            Sempurna, kata-kata yang menguatkanku. Suamiku pergi di salah satu hari terbaik (Senin), salah satu tanggal terbaik (15), salah satu bulan terbaik (ramadhan), dengan cara yang sangat baik dan mudah, dengan kondisi keimanan yang insyaallah semakin lebih baik. Apalagi yang harus kusesali? Bila saat ini dia masih bersamaku, belum tentu dia akan mengalami kemudahan dan keindahan seperti itu.
Begitupun aku, yang begitu nyaman dengan keberadaanku bersamanya, begitu tergantung padanya, hanya sebuah teguran dari Allah yang bisa menyadarkanku. Maka tidak mungkin aku memintanya lebih lama bersamaku bila itu tidak akan membuatnya menjadi lebih baik. Allah yang Maha Tahu
            Cintanya juga telah sempurna. Aku ingat do’a yang diberikan oleh banyak orang di hari pernikahan kami. Do’a agar keluarga kami menjadi sakinah mawaddah warahmah (aku tidak tau apakah sudah terwujud, tapi kami bahagia, wallahua’lam), agar kami bersama sampai ke anak cucu (hanya sampai ke anak, setidaknya setengah do’a ini terijabah, :)), dan semoga hanya terpisahkan oleh maut.
Kami berpisah dengan cara yang sempurna. Setidaknya do’a terakhir benar-benar terwujud, maka apa lagi yang harus aku minta? Bukankah terlalu tidak tau diri bila aku menyesali Alah yang tidak mengijabah semua do’a tersebut?
            Kisah ini jelas bukan kisah bahagia, tidak happy ending seperti kisah dongeng atau novel yang sering aku baca. Tapi juga bukan kisah kesedihan tak berujung seperti sinetron-sinetron masa kini yang tak pernah lagi kutonton. Kisah ini hanya sepenggal cerita anak manusia, kisah wajar yang terjadi dimana-mana. Sebuah kisah yang menjadi pijakan awal untuk mencari bahagia selanjutnya. Bahagia yang kupahami bukanlah terletak pada apa yang dimiliki dan dialami oleh seseorang, tapi bagaimana manusia menyikapi apa yang telah dimiliki dan dialami.
Sabar dan ikhlas yang bukan hanya dibibir, walau mungkin belum benar-benar hadir di hati. Cinta yang tidak harus berwujud dan mengerucut pada satu sosok manusia, tapi belajar membaginya pada banyak jiwa namun tetap bersumber pada sang Maha Pencinta. Belajar mencari hikmah kehidupan.   
            Sahabat, aku tidak lagi menangis saat menulis ini. Aku hanya ingin berbagi seperti amanah ibu, maka jangan ada yang menangis ya.…. Tersenyumlah bersama aku dan Zia, yang selalu berkata, “Kita berdua bahagiakan, Bunda,” :)

By : Ade susanti.
“ based on a personal story”

Ooooooooooo00ooooooooooO

Jika Cinta adalah  proses ujian yg keras dan pahit dalam  kehidupan manusia.
Aku hanya akan belajar dan terus belajar untuk bisa lulus.
Jika cinta adalah senyuman dan tangisan,
begitu pula adanya yang telah ku lalui bersama mu.
Jika cinta adalah  ruang dan waktu,
aku pun hendak mengisi seluruh ruang dan waktu ku hanya dengan mu.

Jikalau Allah hanya memberi satu kesempatan pada setiap manusia untuk mencintai,
aku yakin kesempatan ini telah kugunakan untuk pilihan terbaik, yaitu kau.
Sekilas pernah aku bertanya, “bagaimana nasib cinta ini ?”
Kemudian jantungku berdetak lebih cepat,
merasakan kau hadir begitu nyata dan dekat untuk menjawab semua pertanyaan.
Kemudian jiwa ini berbisik,
“Bukan hanya cinta, bahkan Hati ku akan terus hidup di ragamu”
Tersadarlah aku, bahwa Kau memang benar-benar hadir,
bahkan lebih dekat di dalam diriku.
Aku selalu yakin,
Allah selalu membuat jalan yang tidak pernah berujung,
Akan ada rencana lain setelah satu rencana telah dikehendakiNya.
Mungkin saja tidak di kehidupan sekarang, tapi di kehidupan selanjutnya.

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
Kau milik Nya, begitu pun aku adanya.

---------------00-----------------


By : m.a sofyrah

Sabtu, 15 Desember 2012

Statistics: Bahan Kuliah Statistik

Statistics: Bahan Kuliah Statistik: Disini Anda bisa mendownload bahan kuliah Statistik: 1. Data Penelitian 2. Penyajian Data Penelitian 3. Ukuran Pemusatan dan Letak Data ...

Selasa, 13 November 2012

SUSU & CINTA


Kisah nyata cinta dalam segelas susu ini benar - benar terjadi kepada dua orang Amerika. Pada suatu hari pemuda kecil jack yang berjualan kue setiap harinya merasa kelaparan. Ia berjualan kue demi mendapatkan uang untuk mengobati ayahnya yang sedang sakit dirumah. Jack kecil hanya hidup berdua dengan ayahnya karena ibunya telah meninggal dunia saat melahirkannya.

Kue yang dijualnya hampir habis, hanya tersisa satu buah saja. Perutnya sangat kelaparan, tetapi jack kecil tidak berani memakan kue tersebut karena mengingat yang di butuhkan bapaknya adalah uang.

Dan tibalah jack kecil disebuah rumah. Ia lalu mengetuk pintu rumah tersebut. Tampak gadis kecil yang seumuran dengannya membukakan pintu (Laura namanya). Jack lalu menawarkan kue nya sambi l menahan rasa sakit diperutnya. Laura kecil bertanya kepada jack apakah kamu lapar? dan si jack kecil hanya menganggukkan kepalanya. kenapa tidak kamu makan saja kue itu? lalu jack menjelaskan bahwa bapaknya membutuhkan uang, jadi ia takut memakan kue tersebut.

Laura kecil berlari ke dalam rumahnya sambil menyuruh jack untuk menunggunya. Namun bukan uang yang di bawanya. Laura kecil membawa segelas susu dan berkata saya tidak menginginkan kue itu, ini segelas susu untuk menghilangkan rasa laparmu. Jack kecil lalu meminumnya dan mengucapkan terima kasih.

20 tahun berlalu, laura kecil tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Tetapi di balik kecantikannya ia di vonis menderita penyakit kanker rahim oleh dokter. Penyakitnya sudah parah akibatnya beberapa rumah sakit tidak sanggup atau menolak untuk mengoprasinya. Hingga laura diterima di sebuah rumah sakit yang bersedia untuk mengoprasinya dengan harapan mendapatkan bantuan dana dari pemerintah.

Kemudian laura di operasi segera akibat kankernya dinilai sudah termasuk kanker akut, perutnya dibelah dan penyakit kankernya diangkat. Laurapun selesai di operasi dan melewati masa - masa penyembuhan di rumah sakit tersebut. Operasinya berjalan sukses, namun yang selalu ada dipikirannya adalah pembayaran operasinya itu.


Setelah kondisinya membaik, laura mendatangi kasir rumah sakit dan meminta catatan tagihan biaya rumah sakitnya. (dengan hati yang tidak tenang)

Saya bisa meminta tagihan rumah sakit atas nama laura? sang kasir menjawab laura kamar 21 B? Oh ini tagihannya, dan ini ada titipan dari seseorang.. (begitu ungkap si kasir sambil memberikan amplop kepada laura sambil tersenyum).

Laura kemudian merasa penasaran dengan biaya tagihannya, ia membuka amplop tersebut dengan berharap sanggup membayarnya. Karena tentu biaya operasi, obat, dan ongkos sewa rumah sakit bila digabungkan akan sangat mahal sekali.

Pelan - pelan laura membukanya.. Ia pun terkejut melihat bahwa semua tagihan rumah sakitnya telah lunas dan di bayar oleh seseorang. Bersama lembar tagihannya ada sepotong kertas kecil bertuliskan seperti ini :

''Sudah di bayar dengan segelas susu... Tertanda Dr. Jack''

Laura sangat terkejut dan baru menyadari bahwa yang mengoprasi dan membayar semuanya adalah Dr.Jack yang 20 tahun lalu di berikannya segelas susu.





Semoga menjadi hal yang inspiratif :)




by : M.a sofyrah

Minggu, 04 November 2012

"HABIBIE DAN AINUN"


"Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu"

Kisah tentang apa yang terjadi bila kau menemukan belahan jiwa dan hatimu. Kisah tentang cinta pertama dan cinta terakhir. Kisah tentang Presiden ketiga Indonesia dan ibu negara. Kisah tentang Habibie dan Ainun. Rudy Habibie seorang jenius ahli pesawat terbang yang punya mimpi besar: berbakti kepada bangsa Indonesia dengan membuat truk terbang untuk menyatukan Indonesia. Sedangkan Ainun adalah seorang dokter muda cerdas yang dengan jalur karir terbuka lebar untuknya. Pada tahun 1962, dua kawan SMP ini bertemu lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta seketika pada Ainun yang baginya semanis gula. Bagi Habibie, dia tak hanya jatuh cinta pada Ainun, dia juga iman pada visi dan mimpi Habibie. Kemudian mereka menikah dan terbang ke Jerman.

Punya mimpi yang besar, juga tak akan pernah mudah mewujudkan nya, Habibie dan Ainun tahu itu. Cinta mereka terbangun dalam perjalanan mewujudkan mimpi. Dinginnya salju Jerman, pengorbanan, rasa sakit, kesendirian serta godaan harta dan kuasa saat mereka kembali ke Indonesia mengiringi perjalanan dua hidup menjadi satu. Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas.
Begitulah berbagai macam Resah, Rasa, ditumpahkan pak Habibie dalam tulisannya. Mengajak kita untuk menikmati surat cinta atas kekaguman abadi seorang suami. mengajak mendalami jurnal politik mengenai kondisi situasi genting negara yang baru merdeka. mengajak merenungi isi pikiran seorang putra bangsa dengan kecintaannya yang luar biasa pada negara dan bangsanya yaitu Indonesia. Setelah menikah dan berbulan madu, Ainun harus ikut suaminya yang sedang dalam proses mendapatkan gelar S3, merantau ke Jerman. Bukan hal yang mudah bagi seorang gadis dengan prestasi cemerlang dan kemudian tinggal di apartemen kecil di Oberfortsbach, desa kecil di pinggiran Jerman Barat.

Biaya untuk kehidupan sehari-hari pas-pasan, sampai pada tahun-tahun awal, Habibie harus berhemat dengan berjalan kaki sejauh 15k menuju tempat kerjanya beberapa hari dalam seminggu. Suami yang sibuk dengan promosi  S3 dan bekerja setengah hari sebagai Asisten di Intitut Konstruksi Ringan Universitas, Habibie juga sering mencuri waktu bekerja di pabrik kereta api mendesain gerbong-gerbong berkonstruksi ringan. Tidak ada keluarga, kerabat dan tetangga untk diajak ngobrol. Tidak ada hiburan. Bahasa Jerman juga pas-pasan. Pantaslah pak Habibie cinta luar biasa pada Bu Ainun, Beliau tidak pernah mengeluhkan segala hal kesulitan! Tidak pernah sedikitpun, tentang apapun dan termasuk pula untuk keberadaan 2 orang anak lelaki, Ilham dan Thareq.

Setelah lulus S3, Habibie ditawari pekerjaan oleh Talbot dan Boeing, dua industri konstruksi terkemuka. Pak Habibie menolak dan memilih untuk pindah ke Hamburg, dimana ia telah melamar dan diterima di perusahaan Hamburger Flugzeugbau HFB. Selepas itu, beliau menjadi pejabat penting perusahaan Messerschmitt Bolkow Blohm. Kemudian beliau dipanggil pulang oleh Presiden Soeharto untuk membangun industri dirgantara Indonesia dan menyumbangkan bakti kepada tanah air. Tidak lama setelahnya, Pak Habibie diangkat menjadi anggota Kabinet Pembangunan Pak Harto, menampuk jabatan Menteri Riset dan Teknologi. Beliau menjadi anggota kabinet selama beberapa periode kepemimpinan Pak Harto, kurang lebih 20 tahun lamanya.
Tahun 1998, ketika dilaksanakan pemilihan umum, Pak Harto secara mengejutkan menggandeng beliau sebagai pasangannya dalam pilpres. Sebuah keputusan yang tidak mudah, mengingat Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi parah dan mulai banyak pihak yang mencoba menggoyang tampuk  kursi kepemimpinanya. Pak Habibie akhirnya menjadi Presiden RI ke-3. Bu Ainun juga menjadi ibu negara RI ke-3. Di tengah perjalanan kehidupannya bersama suami, Ainun pernah berkata,

Beliau (Ainun) berkata:

‘’Mengapa saya tidak bekerja ? Bukankah saya dokter ? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak, tapi untuk apa jika akhirnya itu akan diberikan pada seorang pengasuh anak bergaji tinggi, dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri ? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya ? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orangtua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja ? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami hidup begitu.’’
Dari segala yang di uraikan Pak Habibie, kita bisa belajar banyak. Walaupun bukan merupakan biografi beliau, cerita yang di uraikan di buku beliau, lebih seperti auto-biografi mengenai kehidupan rumah tangga Habibie-Ainun, namun kita dapat menangkap beberapa pemikiran Pak Habibie, mengenai dirinya sendiri, mengenai kehidupannya, serta mengenai Indonesia. Begitu banyak yang dapat dipetik dari buku ini. Termasuk juga Pelajaran menjadi seorang wanita, istri, maupun ibu. Pelajaran mencintai seseorang secara penuh dan utuh. Pelajaran menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar, serta banyak pelajaran lainnya. Dari tulisan Habibie, kita juga selalu menjumpai pesan-pesan dan unkapan perasaan beliau kepada sang istri selama menjalani kehidupan bersama.

Berikut ini kutipan isi surat Cintanya :

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi……

……Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.  Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku. 



....“Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya” 
Terimakasih Allah, engkau telah menjadikan Ainun dan Saya manunggal jiwa, roh, batin, dan hati nurani kami melekat pada diri kami sepanjang masa dimanapun kami berada... (doa B.J. Habibie).


Dari segala hal yang telah di uraikan dalam buku tentang Habibie dan Ainun,  Ada beberapa hal yang sangat  perlu kita ambil contoh dari dua insan terbaik bangsa Indonesia ini, dan kita jadikan sebagai pembelajaran dalam menjalani bahtera rumah tangga juga menghadapi suka-duka dalam kehidupan  :

1. Keduanya selalu berkomunikasi akan hal apapun
2.  Keduanya saling mendukung ketika sepakat akan suatu hal
3. Keduanya sangat religius dan luarbiasanya baik B.J Habibie dan Ibu Ainun selalu puasa senin- kamis dan selalu membaca al-Qur'an satu juz setiap hari.
4. Keduanya benar-benar seperti mewakafkan hidupnya demi bangsa, banyak kontribusi sosial yang mereka realisasikan, ICMI, PT. Habibie Center, ORBIT, sampai dengan pembinaan anak asuh. Mereka benar benar bermanfaat bagi orang banyak. 

Semoga dari kisah mereka, bisa menjadi suatu hal inspiratif bagi kita, bagi kaum muda penerus bangsa untuk terus berusaha menjadi lebih baik dan memberi yang terbaik.



Sumber : -http://www.kompasiana.com/pradiptasuarsyah
              -http://www.nanyaterus.com


Created : M.A sofyrah

Rabu, 31 Oktober 2012

Syukur Kunci Kebahagiaan


Uang banyak, uang pas-pasan, cukup untuk kebutuhan pokok itu sudah bagus. 
Wajah Cakep atau tidak ,itu relative. Yang penting pasangan terima apa adanya. 
Usia tua, usia muda , yang penting sehat. Hidup kaya atau miskin, yang penting bisa rukun. 
Suami pulang sore, suami pulang malam, yang penting pulang sudah bagus. 
Istri cerewet, istri ngambek, selama masih mau mengurus rumah tangga sudah baik. 
Anak di ajarkan jadi professor, jadi pedagang, jadi tekhnisi, yang penting jadi orang baik.    Rumah kecil, rumah besar, asal bisa di tempati  itu jauh lebih penting. 
Ada roda dua , ada roda empat, yang penting bisa di kendarai & berguna. 
Punya atasan baik atau tidak, harus sabar dan kendalikan diri.
          
Hidup yang penting damai dan aman, kalau sudah banyak uang belum tentu kehidupan akan lebih baik. Akan lebih baik, hati baik, perbuatan baik, nasib bersifat dinamis semua tergantung usaha kita, siapa benar atau salah yang tau hanya Tuhan. 
Ada baik nya mengikuti kodrat/takdir/jodoh yagsudah di tetapkan oleh Nya.
Kesimpulanya hidup harus mensyukuri dengan apa yang sudah kita  miliki. Seperti dari kisah berikut,.
          
Seorang petani dan istri nya bergandengan tangan menyusuri jalan sepulang dari sawah sambil diguyur air hujan, lewatlah sebuah motor di depan mereka, berkata lah petani ini pada isrinya, “Lihatlah Bu, betapa  bahagianya suami istri yang naik motor itu, meskipun mereka kehujanan, tapi mereka cepat sampai dirumah, tidak seperti kita yang harus lelah berjalan untuk sampai ke rumah”.
Sementara itu,pengendara sepeda motor dan istrinya yang sedang berboncengan di bawah derasnya air hujan, melihat sebuah mobil pick up lewat di depan mereka, pengendara motor pun berkata dengan istrinya. “Lihat bu, betapa bahagianya orang yang naik mobil itu, mereka tidak kehujanan seperti kita. 
Dan ketika pengendara pick up berbincang dengan istri nya, lewat lah sebuah Mercy, kemudian istri berkata kepada suami, begitu bahagianya kita jika bisa memiliki mobil sebagus itu”.
Tapi pengendara mobil itu pun tidak sengaja memandang pasangan petani yang berjalan dibawah hujan dan bergandengan tangan. Sejenak pengendara mercy berkata dalam hati “begitu tampak jelas kebahagiaan yang mereka rasakan walaupun hidup begitu sederhana, sedang aku dan istriku sama-sama tidak pernah ada waktu untuk berkumpul bersama keluraga”.

Dari kisah di atas kita bisa menyimpulkan, bahwa sempurna nya kabahagiaan yang kita dapat, bagaimana mana kita mau  mensyukuri dari apa yang kita dapat. 
Terkadang manusia lupa, bahwa kebahagiaan yang kita miliki tidak sama dengan kebahagiaan yang orang lain punya, kesulitan yang kita hadapi juga berbeda dengan kesulitan yang orang lain hadapi, apa yang kita miliki belum tentu dimiliki orang lain, begitu juga sebalik nya. 

        Pada dasar nya manusia selalu memiliki ambisi untuk bisa lebih dari apa yang dia punya. Tapi semua itu terkadang juga perlu sedikit  kita lakukan sebagai motivasi agar kita bisa terus berusaha menjadi lebih, dan berupaya memberi  yang terbaik, dengan begitu Tuhan juga tidak akan menutup langkah kita untuk mendapatkan hal-hal yang lebih baik untuk hidup kita.

Semoga Bermanfaat, keep istiqomah.
Sumber : http//:www.Mutiara air mata muslimah.com



Created by : M.a sofyrah


         

Percayakah kamu ?


Cerita ini mengisahkan dari beberapa pasangan yang mempunyai cara pandang berbeda untuk mempercayai dan mencinta pasangan nya.

                Pasangan pertama, seorang pemuda yang coba mendekati seorang gadis, tapi sebenarnya pemuda ini hanya mencoba-coba kesempatan yang ada tanpa mempunyai niat keseriusan dalam hubungan itu. Dengan polos nya gadis itu menganggap pemuda itu memang baik untuknya. Pemuda ini juga menarik perhatian  gadis lain dalam kesempatan lain yang dia miliki, si gadis percaya bahwa jika dalam setiap hubungan memang harus memiliki rasa percaya satu sama lain.
                “Kenapa kmu mau terima aku,?Apa menurut mu aku baik?”
“Aku gk bisa  membedakan pria baik atau jahat, serius atau tidak, karena terkadang mereka yang jahat dan baik bisa lebih baik bersandiwara menjadi apa yg mereka butuhkan, dan juga sebalik nya, terkadang lelaki yang tidak mempunyai keseriusan bisa saja menjadi lelaki baik seiring kita menjalani nya dengan kepercayaan” jawab si gadis dengan polos nya.
“Apa kamu percaya dengan aku?” Tanya pemuda kembali.
 “Aku gk pnh tau, apa aku terlalu polos dan naïf untuk tll cepat percaya kamu. tapi jika nanti ujung nya kamu memang terbukti kamu bukan lelaki baik, aku tinggal menghapus sbuah debu kotor di hati ku. Tanpa harus menyesal sudah menghabiskan waktu untuk mencintai orang yang salah, Karena ku rasa yang paling menyesal nanti nya adalah orang yang mempermainkan perasaan pasangan nya, tapi dia telah tau pasangannya benar-benar mencintai dia” dengan tenang gadis itu mengungkapkan perasaannya dengan pemuda itu.

Pemuda itu hanya diam, dia berfikir dan bercermin dari apa yang telah dia lakukan. Dan beberapa waktu berlalu  sang pemuda pun meninggalkan gadis tersebut, dia berfikir mungkin dia telah bermain-main dengan hati yang salah, pemuda itu jg sadar, dia yang belum mampu menetapkan hati nya untuk satu wanita.
“kalau saja saat ini aku sudah punya kemantapan hati untuk satu pilihan, pasti aku hanya menetapkan nya untuk orang seperti mu, jika Tuhan memberi aku kesempatan lagi, aku ingin kembali untuk mu” pemuda sejenak berfikir dan pergi dari hidup gadis tersebut.
Sedangkan sang gadis seperti yang dia katakan dengan pemuda tersebut, dia tidak pernah merasakan penyesalan, walau untuk sebuah debu kotor yang harus segera dia bersihkan di hati nya.

Pasangan kedua, seorang gadis yang telah menerima seorang pria sebagai kekasih nya, tetapi selalu saja tidak pernah menyimpan kepercayaan pada diri nya juga untuk pasangan nya. Suatu hari teman si gadis pun bertanya “Apa kamu percaya dengan dia ?” sang gadis pun menjawab “bukan nya kesetiaan itu membawa beban untuk kita, kita sudah setia sudah percaya tapi belum tentu mereka melakukan hal yang sama”,,, kemudian teman nya bertanya lagi “jadi maksudnya kamu mau selingkuh?” gadis menjawab “Aku tidak pernah menutup untuk menerima orang lain yang akan datang pada ku, biar aja seiring waktu semua terjawab siapa yang memang Tuhan jodohkan utk  ku, kesetiaan itu terkadang membawa bencana untuk perasaan kita”.

Suatu hari pria bertanya pada gadis tersebut, “Apa kamu percaya dengan ku ?” sang gadis langsung menjawab “Tentu, apa kamu udah yakin denga aku? Apa gak ada gadis lain yang dekat dengan kamu?”. “Kenapa harus ada yang lain, kalo hati kita Cuma satu. aku rasa satu pilihan saja yang cukup untuk di pahami, tapi ketika kita di tunjukan dengan kesalahan,  baru lah kita mulai memilih yang lain” Pria pun menjelaskan dengan gadis itu. Gadis itu pun hanya diam berfikir dan berbicara dengan dalam hati “Jangan terlalu meyakinkan ku denga kata-kata manis, Karena aku tau itu cuma sebatas kata-kata yang semua orang bisa melakukan nya”

Tapi pada suatu hari, pria tersebut pun mengetahui bahwa sang gadis memiliki laki-laki lain, dan gadis itu pun tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti yang di katakan pria tersebut, dia langsung meninggalkan gadis itu dengan rasa kecewa. Dengan segala penyesalan gadis tersebut meminta pengertian pria, tapi seperti apa yan dikatakan pria pada wanita itu
“makasih udah menunjukan kesalahan yang selama ini tertutupi, tapi yang kamu harus tau, aku tidak pernah seperti apa yang kamu takuti karena aku gk mau menyesal hanya karena membuat kesalahan bodoh” pria terebut langsung pergi meninggalkan gadis tersebut.

Kisah ketiga, adalah  pasangan yang mencoba memberi kepercayaan satu sama lain, saling terbuka  tanpa harus mencurigai masing-masing pasangan. Tapi beda hal dengan permasalah seperti kisah sebelum nya. Suatu saat  Sang  pria  tiba-tiba menaruh rasa dengan gadis lain yang telah menarik perhatian nya, tapi takut menyakiti perasaan pasangan nya. seiring waktu sang pria pun benar-benar tidak bisa menahan lagi dan gak mau menipu pasangan nya , sedang sang gadis yang sudah merasakan hal yang berbeda dari pasangan nya dan bertanya
“apa ada masalah, akhir-akhir ini aku lihat sikap mu berbeda?” pria pun berkata “Aku tidak tau harus mulai dari mana, tapi aku takut menyakiti perasaan kamu”, setelah pria berkata baik-baik untuk tidak meneruskan hubungan, karena alasan tertentu.
Pria pun bertanya lagi,“Maaf udah buat kecewa dan sedih, Kalau kamu mau marah samu aku silahkan tapi aku gak bisa terus-terusan menipu perasaan aku dan kamu”.
“Gak ada yang perlu aku sesali, apalagi sedih yang berlebihan. aku jg g salahin perasaan kamu yang brubah, mgkin karena semakin lama sikap kita yang buat gk nyaman satu sama lain , Yah, sedikit kecewa tapi makasih udah jujur, sebelum membuat kesalahan yang lbh fatal , aku jg gak perlu nyesal atau sedih, karena udah pasti nanti aku akan dapat ganti nya yang mungkin lebih cocok dengan aku”Sang gadis pun pergi, dengan sedikit kecewa tapi dia mencoba untuk menghargai keputusan ini.

Waktu pun kian berlalu, sang  pria pun yang selama ini menjalin hubungan dengan gadis yang di pilih nya lalu telah berpisah karena suatu hal, sang pria pun mencoba mencari  mantan kekasih nya dulu, tapi setibanya dia tau, bahwa sang gadis sudah bersama orang lain, yang kelihatan nya bisa membuat sang gadis bahagia. Pria tersebut pun mengurungkaan niat nya, dan turut bahagia dengan apa yang kan dirasakan mantan kekasih nya.

Dari tiga kisah tersebut menunjukan, betapa penting nya rasa kepercayaan dan keterbukaan dalam stiap hubungan, kita memang tidak dapat meyakinkan suatu hal yang akan terjadi kedepan nya. Tapi kita juga tidak layak mengantisipasi rasa kecewa kita dengan menghianti sebuah hubungan, berikanlah segala hal yang baik dan hindari untuk menjadi pembuat kesalahan, Karena yang selalu menyesal adalah orang-orang yang senang membuat pertengkaran.
 Yang kita butuh kan adalah keikhlasan dan keyakinan, bahwa Tuhan akan menggantikan suatu yang pergi dari kita dengan suatu hal yang lebih baik, dengan syarat kita telah mencoba  memberi dan mencoba yang terbaik untuk hal yangkita miliki.

Ketika kita tidak mampu percaya, kita juga tidak perlu memberi peluang agar  seseorang mau mempercyai kita. kita yang sudah memberi kepercayaan tetapi tidak berbalas seperti apa yang di harapakan, kita juga tidak perlu memperpanjang harapan, tapi ciptakan lah harapan-harapan baru untuk orang yang baru dan minta kepada Tuhan yang Maha tau. Cinta itu butuh logika, cinta juga realistis yang disesuaikan dengan kenyataan hidup, tidak memberi mimpi-mimpi palsu yang membutakan mata hati dan menyesatkan akal. 

So,, keep your relationship, keep your feeling,


By : M.A Sofyrah