Assalamu`alaikum

Assalamu`alaikum
"Tuhan, aku sadar hidup hanyalah perjalanan sementara, maka izinkanlah aku mengisi waktu yang sementara ini dengan kebaikan & kebahagiaan cinta kasih yang Kau Ridhai. Dan kembali pada Mu dengan segala keberkahan"

Selasa, 22 Januari 2013

ANALISA ITEM TEST

Materi Pendidikan Indonesia: CARA MENGANALISA ITEM TEST: Dalam analisa item test ini yang perlu sekali adalah menghitung daya membeda item dan tingkat kesukaran item. Hal ini sangat berguna untuk m...

Senin, 14 Januari 2013

S2 KEBIDANAN

Program Studi Magister Kebidanan memberikan kesempatan kepada peserta program sehingga lulusan menguasai kemampuan dalam melaksanakan pekerjaan yang kompleks, dengan dasar pelayanan kebidanan yang profesional, termasuk keterampilan merencanakan, melaksanakan kegiatan, memecahkan masalah dengan tanggung jawab yang mandiri pada tingkat tertentu, memiliki keterampilan dalam penelitian dan manajerial, serta mampu mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi di dalam bidang keahliannya.

TUJUAN PENDIDIKAN 
Tujuan utama Program Studi Magister Kebidanan adalah pengembangan tenaga bidan yang mampu melaksanakan upaya pelayanan kebidanan yang berkualitas tinggi untuk mewujudkan paradigma sehat yang:
1. Mampu mendidik bidan menjadi sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan masyarakat
2. Mampu menjalankan kebijakan pendayagunaan karier bidan yang terpola selaras dengan wewenangnya
3. Mampu melakukan kolaborasi dengan Masyarakat terinstitusi (stakeholder) dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidan guna memecahkan masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia
4. Mampu melakukan pengintegrasian sumber-sumber daya manusia dan perangkat keras untuk pengelolaan suatu unit kerja atau aktivitas yang berkaitan dengan pelayanan, pendidikan, dan penelitian
5. Mampu secara langsung melakukan analisis ilmu kebidanan yang dikembangkan dari kasus-kasus khusus sebagai bagian dari konsentrasi program
6. Memiliki kemampuan khusus dalam bidang manajerial klinik kebidanan secara mandiri
7. Mampu melakukan penelitian dalam bidang kebidanan dengan menggunakan metode ilmiah yang tepat dan teruji.

Misi : 
1. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat untuk menghasilkan bidan pengelola, pendidikan dan peneliti yang berkualitas setingkat Magister-S2 sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
2. Menjalankan kebijakan pendayagunaan dan pengembangan karier bidan yang terpola di Indonesia.
3. Melakukan kolaborasi dengan masyarakat terinstitusi (stakeholder: Pusdiknakes, IBI, POGI, PPSDM, PEMDA dan Rumah Sakit) dalam melakukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kebidanan guna memecahkan masalah kesehatan ibu dan anak di Indonesia.

Persyaratan Pendaftaran S2 Kebidanan Unpad : 
1. Pendaftar telah lulus D4 Kebidanan minimal 2 tahun.
2. Fotokopi ijazah & transkrip prestasi akademik D4 Kebidanan yang telah dilegalisir oleh PTN asal atau PTS asal.
3. Pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 4 buah
4. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) daerah asal.
5. Surat keterangan sehat dari dokter pemerintah.
6. Surat ijin dari Suami untuk mengikuti Pendidikan bagi yang telah menikah.
7. Surat ijin dari Atasan untuk mengikuti Pendidikan bagi yang telah bekerja.
8. Surat rekomendasi akademik, dari dua orang Guru Besar / Dosen Senior / Profesional / Akademisi yang mengenal baik pelamar.
9. Surat kesanggupan di atas materai untuk membayar

BAHASA PENGANTAR 
Bahasa pengantar yang dipergunakan dalam menyampaikan dan mendiskusikan materi adalah bahasa Indonesia, sedangkan referensi bisa dalam segala bahasa.

LAMA STUDI 
Program Studi Magister Kebidanan dengan beban studi 49 SKS (tidak termasuk matrikulasi 28 SKS) ditempuh dalam 4 semester tetapi memungkinkan untuk dapat ditempuh kurang dari 4 semester, dan paling lama 8 semester termasuk tesis.

Struktur Kurikulum 
Mata Kuliah Matrikulasi
Seksualitas & Kesehatan Seksual
Ekonomi Kesehatan
Obstetri Perinatal
Nutrisi & Gizi Dalam Kesehatan Reproduksi
Biologi Molekuler dalam Kebidanan
Keluarga Berencana & Permasalahannya
Sistem Informasi Pendidikan Kesehatan
Aplikasi Internet & E-Learning
Manajemen Kesehatan Masyarakat
Sistem & SOP dalam Kebidanan
Anatomi dan Fisiologi
Hukum Kesehatan
Kewirausahaan
Pendidikan Bidan dari Vokasi menuju Wawasan Master

Mata Kuliah Kurikulum S2 Kebidanan
Filsafat Ilmu
Biostatistik
Epidemiologi
Evidence Based Kebidanan
Filosofi Kebidanan
Aspek Psikologis & Sosiobudaya dalam Kehamilan & Persalinan
Obstetri & Ginekologi Terkini
Obstetri & Ginekologi Sosial
Feto Maternal
Manajemen Pendidikan Kesehatan
Topik Khusus
Metodologi Penelitian Berorientasi Tesis
Pengkajian Hasil Penelitian & Meta Analisis
Perencanaan & Penilaian Program Promosi & Komunikasi Kesehatan.
Etika Penelitian
Kajian Dalam Asuhan Kebidanan
Infertilitas & Endokrinologi
Manajemen SDM Kebidanan
Manajemen Mutu Pelayanan Kebidanan
Gender & Kesehatan Reproduksi*)
Menopause & Permasalahannya*)
Onkologi & Uroginekologi*)
Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi dalam Pelayanan Kesehatan*)
Seminar Usulan Penelitian
Tesis
Keterangan :
*) Mata Kuliah Pilihan 

LULUSAN
1. Lulusan Program Studi Magister Kebidanan berhak menyandang gelar Magister Kebidanan (disingkat M.Keb.)
2. Lulusan Program Studi Magister Kebidanan dengan IPK ≥ 3,25 dapat melanjutkan ke strata – 3 untuk mendapatkan gelar Doktor dalam bidang Ilmu Kesehatan.

BENTUK KEGIATAN AKADEMIK
1. Pinsip pembelajaran adalah “SPICES” (Student centered; Problem based; Integrated; Community based; Elective; Systematic)
2. Metode pembelajaran adalah Problem Based Learning.
3. Bentuk pengajaran “tutorial discussion” dan bila perlu “minilecture”
4. Kegiatan pembelajaran untuk setiap mata kuliah/setiap semester diselenggarakan dengan waktu yang dipadatkan sesuai besarnya SKS dan diselesaikan (diakhiri dengan ujian) satu per satu mata kuliah.

MATRIKULASI (BRIDGING COURSE)
1. Bagi calon mahasiswa yang diterima diwajibkan mengikuti “Bridging course” (matrikulasi) sebesar 28 SKS (tidak dimasukkan sebagai beban studi), yang diakhiri ujian untuk menilai dapat tidaknya melanjutkan studi.
2. Matrikulasi (bridging course) merupakan kegiatan kademik yang memuat sejumlah mata kuliah prasyarat yang harus diambil terlebih dahulu sebelum mengambil mata kuliah – mata kuliah pokok selanjutnya dan harus sudah dinyatakan lulus (dengan nilai minimal angka mutu B) oleh pengampu mata kuliah bersangkutan paling lambat pada akhir semester ke satu.
3. Matrikulasi dianggap lulus bila Indeks Prestasi (IP) ≥ 2,75, nilai C tidak melebihi 20 % (6 SKS), dan tidak ada nilai D dan E.
4. Kegiatan pembelajaran setiap mata kuliah dalam matrikulasi diselenggarakan dengan waktu yang dipadatkan dan diselesaikan (diakhiri dengan ujian) satu per satu.
5. Metode pembelajaran matrikulasi adalah tatap muka dan kegiatan mandiri. Tugas mandiri ditetapkan oleh pengampu mata kuliah bersangkutan. Setiap mahasiswa wajib membuat laporan tugas mandirinya dan diserahkan kepada pengampu mata kuliah untuk mendapat nilai atau umpan balik

PENGAMPU MATA KULIAH
1. Pengampu mata kuliah berkualitas Profesor, Doktor, atau Magister yang sudah/dianggap senior.
2. Pengampu mata kuliah bisa hanya seorang atau berupa tim.
3. Pengampu bisa mengajar pada kelas A atau kelas B saja atau pada kedua-duanya.

TUGAS PENGAMPU MATA KULIAH
1. Pengampu membuat silabus MK yang diasuhnya.
2. Pengampu MK membuat “general learning objectives” untuk MK yang diasuhnya
3. Pengampu MK membuat “specific learning objectives” untuk setiap Pokok Bahasan dan problem (masalah)
4. Pengampu MK membuat problem (masalah) sebagai bahan diskusi mahasiswa berdasarkan “general and specific learning objectives” yang disusunnya dan yang harus “didiskusikan” dan “dipelajari” oleh mahasiswa. Tergantung dari kompleksitas mata kuliah, untuk setiap mata kuliah dapat dibuat lebih dari satu problem (masalah). Usahakan jumlah problem dapat mewakili semua isi MK yang harus dipelajari. Problem (masalah) merupakan “trigger” pembelajaran mahasiswa, apa dan sejauh mana (sesuai learning objectives) yang harus dipelajari mahasiswa, bukan merupakan masalah sebenarnya yang harus dipecahkan.
5. Pengampu MK menjadi tutor pada tutorial discussion (diskusi kelompok)
6. Pengampu MK menguji mata kuliah yang dibimbingnya sesuai jadwal yang ditentukan.
7. Pengampu MK menyerahkan hasil ujian kepada sekretaris setiap akhir kegiatan akademik mata kuliah bersangkutan dengan bentuk huruf mutu masing-masing mahasiswa selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari sesudah ujian.
8. Pengampu MK mewajibkan sekurang-kurangnya satu “textbook” referensi dan menyarankan satu macam jurnal yang dapat dipergunakan untuk belajar dan memecahkan problem bersangkutan.

KEWAJIBAN MAHASISWA DALAM MENJALANKAN KEGIATAN AKADEMIK
1. Mahasiswa wajib mempelajari materi ajar (topik) berdasarkan problem (masalah) yang akan didiskusikan sebelum diskusi dilaksanakan dengan memperhatikan kepada sejauh mana “learning objectives” yang diinginkan/ ditentukan pengampu.
2. Mahasiswa wajib mengikuti seluruh kegiatan pembelajaran.
3. Tidak mengikuti diskusi hanya boleh apabila karena sakit atau karena musibah (surat sakit atau keterangan musibah harus sudah diterima dalam waktu 48 jam sejak mulai sakit atau musibah) dan untuk setiap MK sebanyak-banyaknya 2 (dua) kali. Ketidakhadiran ini harus diganti dengan tugas yang diberikan oleh pengampu MK.
4. Bagi mereka yang tidak mengikuti kegiatan pembelajaran atau waktu diskusi 3 (tiga) kali atau lebih, dengan alasan apapun, maka untuk MK bersangkutan dianggap mengundurkan diri, dan harus mengulang seluruh kegiatannya pada tahun ajar yang akan datang serta mendapat huruf mutu T (tidak lengkap dan tidak diperhitungkan dalam penghitungan IPK)
5. Harus aktif dalam mengikuti diskusi dan memberikan kontribusi hasil bacaan ilmiah yang benar (berdasarkan kaidah ilmiah yang lojik dengan referensi “textbook”)
6. Membuat laporan hasil setiap diskusi atau setiap masalah (tergantung kebijakan pengampu MK) secara berkelompok atau perorangan (tergantung kebijakan pengampu MK) dan menyerahkannya kepada pengampu MK untuk mendapat umpan balik atau penilaian.
7. Mengikuti Ujian secara lengkap untuk setiap MK.
8. Setiap mahasiswa sangat dianjurkan memiliki “textbook” wajib setiap MK (boleh asli atau kopi).

TIM PEMBIMBING 
1. Selama mengikuti pendidikan, setiap mahasiswa diarahkan dan dibimbing oleh tim pembimbing yang ditunjuk oleh ketua program.
2. Tim pembimbing harus berkualitas Profesor atau Doktor.
3. Tim pembimbing bertugas sebagai pengarah penelitian untuk tesis.

KARYA ILMIAH / ARTIKEL
1. Selama mengikuti pendidikan, mahasiswa diwajibkan membuat karya tulis ilmiah yang dipublikasikan atau siap dipublikasikan sekurang-kurangnya 1 (satu) buah.
2. Bentuk publikasinya berupa simposium, pertemuan ilmiah yang mempunyai nilai akreditasi, majalah, atau jurnal yang terkareditasi.
3. Karya ilmiah ini merupakan prasyarat untuk mengikuti ujian tesis, dengan demikan harus sudah selesai sebelum ujian tesis

PENILAIAN MATA KULIAH
1. Nilai akhir berupa huruf mutu merupakan gabungan nilai ujian dan tugas mandiri yang diberikan selama semester berlangsung yang rasionya diserahkan kebijakan pengampu.
3. Mahasiswa dinyatakan lulus suatu mata ajar jika memperoleh serendah-rendahnya huruf mutu C
4. Bagi mereka yang tidak lulus (kurang dari huruf mutu B) diharuskan mengulang ujian sebanyak-banyak 2 kali perbaikan. Bila setelah 2 kali perbaikan masih belum berhasil mahasiswa diberi tugas khusus mata ajar bersangkutan pada semester berikutnya dan diuji sebagai ujian terakhir (hanya satu kali). Bila tidak juga berhasil maka mahasiswa dikenai sanksi pemutusan studi.
5. IPK mata kuliah pokok (tidak termasuk Usulan Penelitian dan Tesis) sekurang-kurangnya 3, nilai C tidak melebihi 20 % (8 SKS), dan tidak ada nilai D dan E.

TESIS SEMINAR USULAN PENELITIAN
1. Usulan penelitian merupakan kerangka tesis yang belum diuji secara empiris.
2. Seminar usulan penelitian dilaksanakan pada semester alih.
3. Jumlah penguji adalah 7 orang yang terdiri dari 2 anggota tim pembimbing dan 3 orang penelaah dan 2 orang dari komite etik termasuk ketua Program (sebagai ketua sidang).
4. Pada akhir seminar semua skor yang berupa angka mutu dengan kisaran 0,00 – 4,00 dikumpulkan dan dihitung dengan perincian: Nilai pembimbing adalah 60% dan nilai penelaah 40%.
5. Angka kelulusan serendah-rendahnya 3,00.
6. Bila tidak lulus, mahasiswa diberikan kesempatan hanya satu kali seminar perbaikan dan bila belum berhasil juga mahasiswa dikenakan sanksi pemutusan studi.
7. Bagi mahasiswa yang telah lulus seminar diwajibkan melengkapi dan memperbaiki usulan penelitiannya dan ditandatangani kembali oleh pembimbing dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai usulan penelitian untuk tesis. Hasil perbaikan harus diserahkan kepada ketua program untuk mendapat surat ijin melaksanakan penelitian.

PENELITIAN
1. Penelitian dilakukan setelah lulus seminar dan perbaikan usulan penelitian yang telah disetujui oleh pembimbing dan penelaah.
2. Pembimbing dapat melakukan supervisi (bila diperlukan) ke lokasi penelitian untuk melihat keabsahan penelitiannya.

SEMINAR PRATESIS
1. Untuk lebih meningkatan kualitas tesis, maka setiap mahasiswa diwajibkan melaksanakan seminar pratesis dari draft naskah tesis sebelum ujian tesis.
2. Seminar pratesis merupakan tes formatif, saran perbaikan pengumpulan, penyusunan, dan pengolahan data penelitian.
3. Seminar pratesis dihadiri oleh komisi pembimbing dan anggota yang ditunjuk oleh program

TESIS DAN PENILAIAN UJIAN TESIS
1. Tesis adalah karya ilmiah akhir mahasiswa yang dibuat berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode dan kaidah penelitian yang berlaku dan bukan suatu studi literatur
2. Tesis harus mempunyai nilai manfaat praktis yang seimbang dengan sumbangan ilmiahnya.
3. Tesis adalah karya ilmiah asli mahasiswa yang dinyatakan dengan pernyataan bermeterai tentang keasliannya.
4. Sidang ujian akhir lisan terbuka untuk mempertahankan tesis dapat dilaksanakan apabila mahasiswa memperoleh IPK untuk perangkat mata ajar sekurang-kurangnya 3,00 dan naskah tesisnya telah disetujui oleh para pembimbingnya.
5. Ujian tesis hanya dapat dilaksanakan bila para penguji (pembimbing dan penelaah) sudah sepakat akan kelayakan uji naskah tesis.
6. Ujian tesis dihadiri sekurang-kurangnya 5 orang yang terdiri dari jumlah variasi masing-masing unsur pembimbing dan penelaah.
7. Pada akhir ujian tesis semua skor yang berupa angka mutu dengan kisaran 0,00 – 4,00 dikumpulkan dan dihitung dengan perincian: Nilai pembimbing adalah 60% dan nilai penelaah 40%.
8. Angka kelulusan serendah-rendahnya 3,00.
9. Ujian tesis hanya diberi kesempatan 2 (dua) kali dalam kurun waktu yang disepakati.

YUDISIUM
Yudisium dilaksanakan pada saat ujian tesis selesai.

SANKSI AKADEMIK
1. Sesuai dengan peraturan yang dianut Universitas Padjadjaran, sanksi akademik dikenakan kepada mahasiswa yang melakukan tindakan tidak terpuji dalam proses belajar mengajar, baik akademik maupun non-akademik, atau melanggar hukum (misalnya melakukan tindakan kriminal) atau melakukan perbuatan tidak bermoral.
2. Berat ringannya sanksi akademik ditetapkan (berdasarkan peraturan dan perundangan yang berlaku) oleh suatu Dewan Pertimbangan yang terdiri atas Asisten Direktur I sebagai ketua, Ketua Pembimbing dan Koordinator S2 untuk diteruskan ke Direktur Program Pascasarjana dan/atau Rektor Universitas Padjadjaran.

Pendaftaran :
Waktu Pendaftaran des-2012 (melalui SMUP)
Materi Ujian: Tes Kemampuan Belajar, Tes Kemampuan Bhs Inggris, Psikometri dan Wawancara.

Registrasi online (smup.unpad.ac.id)
Untuk Informasi lebih lanjut dapat ditanyakan langsung ke:
Sekretariat Studi Magister Kebidanan Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran UNPAD
Gedung FK UNPAD Lt.4 Jl. Eijkman No.38 Bandung
Telp/Fax : 022-2037824,





sumber : http://smup.unpad.ac.id/

PERMENKES Ri NOMOR 1796/MENKES/PER/VIII/2011 TENTANG REGISTRASI TENAGA KESEHATAN

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1796/Menkes/Per/Viii/2011 Tentang Registrasi Tenaga Kesehatan, merupakan pengganti dari Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 161/Menkes/Per/I/2010 Tentang Registrasi Tenaga Kesehatan.

Permenkes tersebut menegaskan bahwa setiap tenaga kesehatan wajib memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) sebelum tenaga kesehatan tersebut melaksanakan tugas keprofesiannya.

Beberapa point penting yang harus menjadi perhatian bagi kita, perawat adalah sebagai berikut:
1. Bagi seluruh Lulusan pendidikan keperawatan sebelum tahun 2012, maka pemutihan STR dapat diperoleh tanpa harus melakukan Uji Kompetensi dan berlaku selama 5 (lima) tahun sedangkan bagi lulusan minimal tahun 2012, untuk mendapatkan STR harus melalui Uji kompetensi.

2. Untuk mendapatkan pemutihan STR tersebut,setiap tenaga kesehatan mengusulkan permohonan kepada Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) dengan melampirkan hal-hal sebagai berikut :
1. Ijasah terakhir yang dilegalisir (SPK, D3, Ners, Ners Spesialis)
2. Pas Foto ukuran 4×6 latar belakang merah,sebanyak 3 lembar

Bagi Perawat di masing-masing Provinsi, silahkan berkoordinasi dengan PPNI, baik di komisariat maupun di kabupaten kota untuk melakukan pengajuan STR secara kolektif

3. Pengurusan STR tidak dipungut biaya sepeserpun

Sebagaimana tercantum dalam BAB II pasal 5 bahwa partisipasi tenaga kesehatan tersebut dapat digunakan sepanjang telah memenuhi Persyaratan perolehan Satuan Kridit Profesi. Perolehan Satuan Kridit Profesi harus mencapai minimal 25 (dua Puluh Lima) Satuan Kredit Profesi Profesi) selama 5 (lima) tahun.

Minggu, 16 Desember 2012

More than love


 Ini adalah amanah seorang ibu yang begitu kehilangan putra bungsu kesayangannya. Ketika beliau mendengarkan ceritaku dan memintaku untuk menulisnya suatu saat nanti, aku tau beliau begitu ingin putranya dikenang selamanya. Hal yang pasti aku lakukan tanpa diminta. Walau ternyata ibu cuma mampu menahankan kehilangannya selama 5 bulan, dan menyusul kepergian putranya, aku merasa amanah ini harus tetap aku jalankan. Tidak ada yang aku sesali, walau kekuatan ini baru terkumpulkan sekarang.
            Hari senin itu dimulai dengan kegiatan sahur. Seperti biasa membangunkan bang Aka sahur, dan bersiap menemaninya (waktu itu aku puasa selang-seling karena menyusui). Zia ikut terbangun, dan entah kenapa aku membawanya ke meja makan dan mengatakan padanya untuk menemani ayah makan sahur. Dan itulah kali pertama dan terakhir zia menemani ayahnya makan sahur, kami sahur bersama layaknya keluarga. Setelah sholat subuh, semua berlangsung biasa, canda yang biasa.
Dan sebelum kembali tidur, bang Aka berpesan untuk membangunkannya lebih cepat karena ada kerjaan yang harus segera dia selesaikan, dan mengeluh kepalanya terasa berat, dari malam dia mengeluhkan itu. Sebagai seorang wanita yang terkadang hanya punya kekuatan dari ucapan, aku berkomentar panjang tentang pola hidupnya dimana kelelahan otaknya tidak pernah diimbangi dengan kegiatan fisik, suamiku sering menolak setiap aku ajak sekedar jalan pagi.
            06.30 pagi ketika aku terbangun, aku harus mengajar pagi itu dan masih ada materi pelajaran yang harus aku siapkan. Melihat suamiku tertidur pulas, kemudian mengingat pesannya, aku hanya berpikir ingin memberikannya kesempatan istirahat, maka aku tidak membangunkannya. Aku hidupkan computer, namun tidak hidup, berkali-kali kucoba tetap tidak hidup (dan kejadian yang sama terulang ketika bapak menyusul 2 tahun 6 bulan setelahnya, ketika laptopku untuk pertama kalinya hang dan benar-benar mati).  Sampai hampir putus asa karena computer tak kunjung hidup dan aku ingin membangunkan bang aka, namun kucoba lagi, hingga akhirnya hidup.
            07.00, suamiku memanggil dengan suara pelan, hampir tidak terdengar. Aku mendatanginya. Bang Aka mengeluh kepalanya semakin sakit, aku membantunya duduk, sedikit memijat leher, pundak dan kepalanya. Bang Aka masih ingat memanggil adikku untuk membawa Zia keluar dari kamar, entahlah mungkin dia tidak ingin Zia melihat kesakitannya. Bang Aka kemudian mengeluh mual dan mau muntah, setelah dia muntah, aku menyarankan untuk membatalkan puasanya, suamiku setuju. Aku membuatkan teh manis kesukaannya, tidak pekat dan manis. Bang Aka minum beberapa teguk. Kemudian dia minta tidur kembali, aku membantunya.
            Kupikir suamiku akan tertidur sebentar, maka aku keluar dan menelepon seorang teman unutk memungkinkan membawanya ke rumah sakit haji. Saat aku kembali ke kamar, suamiku sedang berusaha untuk turun dari tempat tidur, aku melihat ketika tubuhnya terhempas ke lantai dalam posisi duduk, aku tidak sempat menangkap badannya. Aku baru sadar kemudian, saat itu kakinya sudah tidak lagi sanggup menopang tubuhnya. Aku sempat marah karena itu berbahaya. Saat itu ibu dan ayah masuk ke kamar, ibu memijat punggungnya, ayah hanya melihatnya.
            Dan saat itu dia berkata “Aka minta maaf ya, Bu. Aka minta maaf ya, Yah,” tapi dengan suara celat, mungkin sepersekian detik aku sempat terpana dan berpikir ‘STROKE?’.
 Tapi kemudian bang Aka mendesak untuk meminta maaf pada abang tertuaku, dan mendesakku untuk menelepon salah seorang kawan kantornya, dengan nada sedikit marah karena tidak sabar, atau mungkin karena kesakitannya atau karena celatnya, entahlah. Adikku menelepon abang tertuaku dan menyampaikan pesan bang Aka, aku menelepon kawan kantornya. Aku hanya mengatakan bang Aka sakit, mungkin akan dibawa ke rumah sakit, dan dia minta temannya datang untuk mengambil flashdisc, agar kerjaan bisa dilanjutkan. Betapa sampai akhir hayatnya pun bang Aka begitu menanggungjawabi pekerjaannya.
            Aku kemudian segera meminta ayah dan ibu bersiap untuk mengantar ke rumah sakit. Abang keduaku mengeluarkan mobil, aku mengambil tensi mencoba menensinya. Saat kupasang manset, mencoba mencari detak nadinya, bang Aka tiba-tiba sudah tidak sadar dan mengorok. Aku tidak lagi bisa meraba detak nadinya mungkin karena panik, batinku. Aku segera melepas manset tensi, mengganti bajunya, tapi tidak celana pendeknya karena aku enggak kuat mengangkatnya. Tidak ada satu helaipun baju yang aku siapkan layaknya mau mempersiapkan untuk opname, aku hanya berpikir segera membawanya ke rumah sakit.
            Aku kembali meminta ayah dan ibu bersiap cepat karena bang Aka sudah tidak sadarkan diri. Segera ayah dan abang membawanya ke mobil.  Abangku nyetir, ayah di sebelahnya. Bang aka di bangku kedua, ibu di sebelahnya dan aku di belakang, tepat di sisi kepalanya.
            “Ade  minta maaf, Bang. Ade ridho…. Lailaahailallah…..” hanya itu kata yang kuingat kubisikkan di telinganya… entah berapa kali….. hingga tiba-tiba ibu mengagetkanku…
            “Kakinya, yah, kakinya,”spontan kami melihat kakinya, namun aku tidak sempat melihat apapun, “Coba dipijat, yah,” kata ibu kemudian.
Belakangan aku tau pada saat itu kakinya tiba-tiba menegang, dan mungkin pada saat itulah malaikat maut berada didekat kepalaku, mencabut nyawa suamiku.
            Saat aku kembali melihat wajahnya, air mata mengalir dari matanya, entah apa yang kupikirkan waktu itu, aku hanya menghapus air matanya.
            “Cari rumah sakit terdekat, enggak usah ke rumah sakit haji,” kataku.
            “Udah ke sufina azis aja,” usul ayah dan segera kuiyakan.
            Entah apa yang kupikirkan saat itu, tapi yang pasti aku perawat, dan mungkin saja aku sudah tahu kebenaran, tapi…… Entahlah mungkin tiada seorang istri yang sanggup mendiagnosis kematian suaminya.
            Sampai rumah sakit sekitar jam 8 kurang. Tubuhnya segera dipindahkan ke brankat. Di ruang IGD, perawat memberikan oksigen dan segera mengambil tensi untuk menensinya. Perawat kesulitan mencari nadinya, spontan aku memegang kakinya, mencoba mencari nadi disana, dan entahlah, aku masih merasakannya.
            “Sudah tidak teraba ya, kak, disini teraba,” ucapku berusaha sabar. Perawat melihatku, “Sabar ya, bu,” Cuma itu jawabannya.
            Ayah, ibu dan abangku menunggu di depan IGD. Aku sendiri mendampinginya, berusaha tenang, tapi aku baru sadari saat itu aku tidak bisa diam memperhatikan wajah suamiku, aku terus berjalan di seputar tempat tidurnya, mungkin itulah wujud kegelisahanku. Perawat lain datang membawa senter, dan menyenter matanya.
            “Pupilnya sudah melebar ya, kak?” tanyaku, dan pada saat itu mungkin mereka sadar aku juga  tenaga kesehatan. Kembali jawaban yang sama kudengar.
Saat kemudian perawat mencoba memberikan bantuan dan memijat jantungnya, aku segera benar-benar tahu apa  yang terjadi. Tapi entahlah aku tetap tenang, mendekati perawat, menepis tangannya, dan meletakkan tanganku di atas dada suamiku, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah hidupku, aku memijat jantung manusia, dan itu suamiku.
 Pijatan pertama, mulut suamiku terbuka, positif aku berpikir dia mencari udara, kedua tidak ada respon, ketiga, keempat, seterusnya tidak ada respon. Aku tidak tahu sampai kapan, aku berhenti, kemudian memandangnya, dan entah apa yang aku pikirkan. Saat menatap wajah tidurnya.
            Jam 8.10 menit dokter datang. Aku segera memanggil ibuku, aku bukan merasa tidak kuat mendengarkan apa yang akan disampaikan dokter, aku hanya merasa tidak mampu  bila harus menyampaikan kebenaran pada keluargaku. Dokter memeriksa, dan vonis itu datang.
            “Ini sudah meninggal, dari di jalan tadi kayaknya,” entah apa yang aku pikirkan mendengar itu, entah…. Seingatku ibu menangis, entahlah, hanya aku tidak menangis. Segera yang aku ingat adalah pikiran bagaimana memberitahukan mertuaku. Otakku berpikir, saat perawat bertanya akan dibawa kemana, tenang aku menjawab alamat mertuaku, sambil terus berpikir bagaimana cara memberitahukannya. Dan aku sempat meminta ibu menanyakan administrasinya. Ya tangisan ibu berhenti, mungkin karena melihat aku tidak menangis.
            Aku segera berpikir memberitahukan lewat kakak ipar, tapi aku tiba-tiba kehilangan cara mencari nomor teleponnya. Segera aku menelepon rumah mertua, karena itu nomor yang kuhapal. Bapak menerima teleponku, setenang apapun aku bertanya nomor kak non, bapak sepertinya tahu kalau ada sesuatu, tiba-tiba bapak  yang masih mempunyai ingatan baik diusianya yang 79 tahun lupa nomor anaknya. 
Aku segera minta izin menutup telepon dan mencari nomor telpon di phonebook hp, ternyata ada. Aku segera nelepon kakak. Aku tidak ingat bagaimana kakak menjawab telponku, aku hanya ingat saat bilang “Kak, bang aka sakit,”
            “Oya, sakit apa?” tanya kakak santai.
            “ Enggak tahu sakit apa kak, tadi kami bawa ke rumah sakit maksudnya mau opname,” tidak mudah mencari kata-kata.
            “Rumah sakit mana?” tanyanya lagi.
            “Rumah sakit sufina azis, kak, di karya, tapi waktu kami sampai sini, kata dokter bang aka udah enggak ada, kak,” salah satu hal tersulit adalah pertama kali mengatakan dan mengakui secara lisan suamiku sudah meninggal dunia, dan kak non orang pertama yang mendengar aku mengatakan itu. Pertama kalinya aku meneteskan air mata.
            “Serius de?” tanyanya mulai terisak. Ya allah, akulah orang yang paling ingin bahwa semua ini hanya canda, hanya  pura-pura….
            “Iya, kak, bang aka meninggal” aku kembali terisak pelan, “Mau dibawa kemana, kak?” aku kembali tenang, berusaha menguasai diri.
            “Bawa kesana aja,” jawab kakak menyatakan kerumah orang tuaku. Otakku masih berpikir jernih.
            “Kalo dibawa kerumah ayah, bagaimana bapak, kak, bapak enggak mungkin tidak melihat bang aka untuk terakhir kalinya,” jawabku. Ya bapak sudah tidak mampu berjalan. Kecelakaan yang menimpanya pada tahun 2003 membuat beliau harus terduduk di tempat tidur.
            “Lagian semua keluarga taunya kesana,” lanjutku, dan akhirnya kakak menyetujui saranku
            Aku tidak pernah suka ambulance, buatku suara sirene selalu identik dengan kesedihan. Dan seingatku ini kali pertama aku berada di dalamnya, bersama ibu, dan suamiku… Ahhh tidak mudah menyebutnya almarhum, tidak pada saat itu…
            Aku tidak sungguh ingat apa yang aku rasakan, tapi yang pasti aku menelepon untuk mengabari beberapa orang, sahabatku, teman kerjaku, teman kerja suamiku, dan sahabat suamiku yang aku kenal. Terkadang dengan nada datar hingga beberapa orang seperti tidak percaya, terkadang dengan sedikit terisak saat aku berbicara pada sahabat-sahabat baikku yang begitu mengenal aku dan suamiku.
Ketika dibelokan terakhir mendekati rumah mertua, aku meminta supir ambulance untuk mematikan suara sirene. Aku masih belum pasti apakah mertuaku sudah menerima kabar ini. Bahkan aku meminta supir untuk menurunkan aku lebih dulu sebelum mobil di putar balik. Tidak tau apa yang akan aku lakukan, tapi setidaknya aku merasa harus berani menghadapi semua.
            Aku melihat ibu, yang kemudian menghambur memelukku, menangis.
            “Bontot, de,” isaknya membisikkan panggilan kesayangan keluarga pada si bungsu. Aku memeluk ibu, sedikit terisak, dan melihat sekitar, rumah ini telah siap menerima kehadiran suamiku.
            Dua buah tilam telah diletakkan di tengah rumah, menghadap ke kiblat, tempat sementara suamiku melanjutkan tidurnya. Zia yang sudah beberapa saat tidak melihat kami menyambutku dengan ceria, masih sempat dia mencoba mengganggu tidur ayahnya, seperti biasa dia berusaha membangunkannya dan mengajak bermain. Dan aku menutup mata dan telinga dari sekitar, aku tidak ingin melihat tatapan mereka, aku tidak ingin mendengar ucapan mereka yang aku tau isinya pasti mengasihani aku dan zia. Aku hanya ingin melewati detik-detik kebersamaan kami dengan baik.  Namun saat wajah ayahnya mulai pucat dan dingin, zia tidak lagi perduli dan tidak lagi meminta untuk dekat dengan ayahnya.
            Ketika ibu memintaku untuk makan. Aku mengikuti langkah ibu ke ruang makan. Memakan roti dan secangkir teh manis hangat yang telah disiapkan untukku. Bukan karena aku merasa lapar, aku hanya tidak ingin pingsan dan kehilangan momen-momen terakhir kami. Aku harus memastikan semua proses berjalan dengan baik untuk suamiku, mungkin bentuk pengabdian terakhirku.
            Ini kali pertama aku mengikuti segala proses pengurusan jenazah. Aku ikut memandikannya, kali terakhir, dan aku ingat pernah memandikan saat suamiku sakit. Aku melihat saat suamiku dipakaikan kain kafan, aku ikut memegang kain panjang untuk menutupinya, dan kala itu kata hatiku berbicara padanya.
            “Begitu tenang abang pergi, pasti karena abang sangat mempercayai ade, maka ade akan jaga kepercayaan abang. Ade dan zia akan melanjutkan sisa hidup kami dengan sebaik-baiknya, ade akan berusaha menjadikan Zia sholehah seperti amanah abang. Ade mampu, bang, dan ade tau abang mengenal ade dengan sangat baik, dan abang pasti tau ade mampu. Allah akan membantu kami,” entahlah, kata-kata itu meloncat begitu saja dari hatiku. Untuk melepas kepergiannya dengan tenang, atau untuk menenangkan hatiku, entahlah…… Menciumnya untuk terakhir kalinya, mengelus alis tebalnya, hidung mancungnya, bibir tipisnya, berharap mencium aroma khas tubuhnya, tapi parfum yang diberikan bilal membuat aku menyadari… Suamiku tidak lagi disini….
            Aku mengantar ketika dia disholatkan di mesjid, dan tiada penyesalanku dengan keadaanku yang tidak memungkinkan untuk ikut mensholatkannya. Aku hanya ingin memastikan semua proses berjalan baik. Dan saat jenazahnya diantar ke pemakaman, aku hanya melihatnya, karena ustadz sudah menyampaikan diujung pengantarnya, bahwa haram seorang wanita ikut ke pemakaman, maka tidak ada satupun dari kami yang mengikutinya, temasuk aku.
            Dan itulah terakhir aku secara fisik berdekatan dengan suamiku….  Saat kerandanya semakin jauh… Tangisanku meluap saat aku memeluk buah hati kami dan menyusuinya.
Saat aku bertanya pada diriku sendiri, “Bagaimana aku, bagaimana anakku, bagaimana kami?”.
            Sempurna, kata-kata yang menguatkanku. Suamiku pergi di salah satu hari terbaik (Senin), salah satu tanggal terbaik (15), salah satu bulan terbaik (ramadhan), dengan cara yang sangat baik dan mudah, dengan kondisi keimanan yang insyaallah semakin lebih baik. Apalagi yang harus kusesali? Bila saat ini dia masih bersamaku, belum tentu dia akan mengalami kemudahan dan keindahan seperti itu.
Begitupun aku, yang begitu nyaman dengan keberadaanku bersamanya, begitu tergantung padanya, hanya sebuah teguran dari Allah yang bisa menyadarkanku. Maka tidak mungkin aku memintanya lebih lama bersamaku bila itu tidak akan membuatnya menjadi lebih baik. Allah yang Maha Tahu
            Cintanya juga telah sempurna. Aku ingat do’a yang diberikan oleh banyak orang di hari pernikahan kami. Do’a agar keluarga kami menjadi sakinah mawaddah warahmah (aku tidak tau apakah sudah terwujud, tapi kami bahagia, wallahua’lam), agar kami bersama sampai ke anak cucu (hanya sampai ke anak, setidaknya setengah do’a ini terijabah, :)), dan semoga hanya terpisahkan oleh maut.
Kami berpisah dengan cara yang sempurna. Setidaknya do’a terakhir benar-benar terwujud, maka apa lagi yang harus aku minta? Bukankah terlalu tidak tau diri bila aku menyesali Alah yang tidak mengijabah semua do’a tersebut?
            Kisah ini jelas bukan kisah bahagia, tidak happy ending seperti kisah dongeng atau novel yang sering aku baca. Tapi juga bukan kisah kesedihan tak berujung seperti sinetron-sinetron masa kini yang tak pernah lagi kutonton. Kisah ini hanya sepenggal cerita anak manusia, kisah wajar yang terjadi dimana-mana. Sebuah kisah yang menjadi pijakan awal untuk mencari bahagia selanjutnya. Bahagia yang kupahami bukanlah terletak pada apa yang dimiliki dan dialami oleh seseorang, tapi bagaimana manusia menyikapi apa yang telah dimiliki dan dialami.
Sabar dan ikhlas yang bukan hanya dibibir, walau mungkin belum benar-benar hadir di hati. Cinta yang tidak harus berwujud dan mengerucut pada satu sosok manusia, tapi belajar membaginya pada banyak jiwa namun tetap bersumber pada sang Maha Pencinta. Belajar mencari hikmah kehidupan.   
            Sahabat, aku tidak lagi menangis saat menulis ini. Aku hanya ingin berbagi seperti amanah ibu, maka jangan ada yang menangis ya.…. Tersenyumlah bersama aku dan Zia, yang selalu berkata, “Kita berdua bahagiakan, Bunda,” :)

By : Ade susanti.
“ based on a personal story”

Ooooooooooo00ooooooooooO

Jika Cinta adalah  proses ujian yg keras dan pahit dalam  kehidupan manusia.
Aku hanya akan belajar dan terus belajar untuk bisa lulus.
Jika cinta adalah senyuman dan tangisan,
begitu pula adanya yang telah ku lalui bersama mu.
Jika cinta adalah  ruang dan waktu,
aku pun hendak mengisi seluruh ruang dan waktu ku hanya dengan mu.

Jikalau Allah hanya memberi satu kesempatan pada setiap manusia untuk mencintai,
aku yakin kesempatan ini telah kugunakan untuk pilihan terbaik, yaitu kau.
Sekilas pernah aku bertanya, “bagaimana nasib cinta ini ?”
Kemudian jantungku berdetak lebih cepat,
merasakan kau hadir begitu nyata dan dekat untuk menjawab semua pertanyaan.
Kemudian jiwa ini berbisik,
“Bukan hanya cinta, bahkan Hati ku akan terus hidup di ragamu”
Tersadarlah aku, bahwa Kau memang benar-benar hadir,
bahkan lebih dekat di dalam diriku.
Aku selalu yakin,
Allah selalu membuat jalan yang tidak pernah berujung,
Akan ada rencana lain setelah satu rencana telah dikehendakiNya.
Mungkin saja tidak di kehidupan sekarang, tapi di kehidupan selanjutnya.

Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
Kau milik Nya, begitu pun aku adanya.

---------------00-----------------


By : m.a sofyrah

Sabtu, 15 Desember 2012

Statistics: Bahan Kuliah Statistik

Statistics: Bahan Kuliah Statistik: Disini Anda bisa mendownload bahan kuliah Statistik: 1. Data Penelitian 2. Penyajian Data Penelitian 3. Ukuran Pemusatan dan Letak Data ...

Selasa, 13 November 2012

SUSU & CINTA


Kisah nyata cinta dalam segelas susu ini benar - benar terjadi kepada dua orang Amerika. Pada suatu hari pemuda kecil jack yang berjualan kue setiap harinya merasa kelaparan. Ia berjualan kue demi mendapatkan uang untuk mengobati ayahnya yang sedang sakit dirumah. Jack kecil hanya hidup berdua dengan ayahnya karena ibunya telah meninggal dunia saat melahirkannya.

Kue yang dijualnya hampir habis, hanya tersisa satu buah saja. Perutnya sangat kelaparan, tetapi jack kecil tidak berani memakan kue tersebut karena mengingat yang di butuhkan bapaknya adalah uang.

Dan tibalah jack kecil disebuah rumah. Ia lalu mengetuk pintu rumah tersebut. Tampak gadis kecil yang seumuran dengannya membukakan pintu (Laura namanya). Jack lalu menawarkan kue nya sambi l menahan rasa sakit diperutnya. Laura kecil bertanya kepada jack apakah kamu lapar? dan si jack kecil hanya menganggukkan kepalanya. kenapa tidak kamu makan saja kue itu? lalu jack menjelaskan bahwa bapaknya membutuhkan uang, jadi ia takut memakan kue tersebut.

Laura kecil berlari ke dalam rumahnya sambil menyuruh jack untuk menunggunya. Namun bukan uang yang di bawanya. Laura kecil membawa segelas susu dan berkata saya tidak menginginkan kue itu, ini segelas susu untuk menghilangkan rasa laparmu. Jack kecil lalu meminumnya dan mengucapkan terima kasih.

20 tahun berlalu, laura kecil tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Tetapi di balik kecantikannya ia di vonis menderita penyakit kanker rahim oleh dokter. Penyakitnya sudah parah akibatnya beberapa rumah sakit tidak sanggup atau menolak untuk mengoprasinya. Hingga laura diterima di sebuah rumah sakit yang bersedia untuk mengoprasinya dengan harapan mendapatkan bantuan dana dari pemerintah.

Kemudian laura di operasi segera akibat kankernya dinilai sudah termasuk kanker akut, perutnya dibelah dan penyakit kankernya diangkat. Laurapun selesai di operasi dan melewati masa - masa penyembuhan di rumah sakit tersebut. Operasinya berjalan sukses, namun yang selalu ada dipikirannya adalah pembayaran operasinya itu.


Setelah kondisinya membaik, laura mendatangi kasir rumah sakit dan meminta catatan tagihan biaya rumah sakitnya. (dengan hati yang tidak tenang)

Saya bisa meminta tagihan rumah sakit atas nama laura? sang kasir menjawab laura kamar 21 B? Oh ini tagihannya, dan ini ada titipan dari seseorang.. (begitu ungkap si kasir sambil memberikan amplop kepada laura sambil tersenyum).

Laura kemudian merasa penasaran dengan biaya tagihannya, ia membuka amplop tersebut dengan berharap sanggup membayarnya. Karena tentu biaya operasi, obat, dan ongkos sewa rumah sakit bila digabungkan akan sangat mahal sekali.

Pelan - pelan laura membukanya.. Ia pun terkejut melihat bahwa semua tagihan rumah sakitnya telah lunas dan di bayar oleh seseorang. Bersama lembar tagihannya ada sepotong kertas kecil bertuliskan seperti ini :

''Sudah di bayar dengan segelas susu... Tertanda Dr. Jack''

Laura sangat terkejut dan baru menyadari bahwa yang mengoprasi dan membayar semuanya adalah Dr.Jack yang 20 tahun lalu di berikannya segelas susu.





Semoga menjadi hal yang inspiratif :)




by : M.a sofyrah

Minggu, 04 November 2012

"HABIBIE DAN AINUN"


"Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu"

Kisah tentang apa yang terjadi bila kau menemukan belahan jiwa dan hatimu. Kisah tentang cinta pertama dan cinta terakhir. Kisah tentang Presiden ketiga Indonesia dan ibu negara. Kisah tentang Habibie dan Ainun. Rudy Habibie seorang jenius ahli pesawat terbang yang punya mimpi besar: berbakti kepada bangsa Indonesia dengan membuat truk terbang untuk menyatukan Indonesia. Sedangkan Ainun adalah seorang dokter muda cerdas yang dengan jalur karir terbuka lebar untuknya. Pada tahun 1962, dua kawan SMP ini bertemu lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta seketika pada Ainun yang baginya semanis gula. Bagi Habibie, dia tak hanya jatuh cinta pada Ainun, dia juga iman pada visi dan mimpi Habibie. Kemudian mereka menikah dan terbang ke Jerman.

Punya mimpi yang besar, juga tak akan pernah mudah mewujudkan nya, Habibie dan Ainun tahu itu. Cinta mereka terbangun dalam perjalanan mewujudkan mimpi. Dinginnya salju Jerman, pengorbanan, rasa sakit, kesendirian serta godaan harta dan kuasa saat mereka kembali ke Indonesia mengiringi perjalanan dua hidup menjadi satu. Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie adalah segalanya, pengisi kasih dalam hidupnya. Namun setiap kisah mempunyai akhir, setiap mimpi mempunyai batas.
Begitulah berbagai macam Resah, Rasa, ditumpahkan pak Habibie dalam tulisannya. Mengajak kita untuk menikmati surat cinta atas kekaguman abadi seorang suami. mengajak mendalami jurnal politik mengenai kondisi situasi genting negara yang baru merdeka. mengajak merenungi isi pikiran seorang putra bangsa dengan kecintaannya yang luar biasa pada negara dan bangsanya yaitu Indonesia. Setelah menikah dan berbulan madu, Ainun harus ikut suaminya yang sedang dalam proses mendapatkan gelar S3, merantau ke Jerman. Bukan hal yang mudah bagi seorang gadis dengan prestasi cemerlang dan kemudian tinggal di apartemen kecil di Oberfortsbach, desa kecil di pinggiran Jerman Barat.

Biaya untuk kehidupan sehari-hari pas-pasan, sampai pada tahun-tahun awal, Habibie harus berhemat dengan berjalan kaki sejauh 15k menuju tempat kerjanya beberapa hari dalam seminggu. Suami yang sibuk dengan promosi  S3 dan bekerja setengah hari sebagai Asisten di Intitut Konstruksi Ringan Universitas, Habibie juga sering mencuri waktu bekerja di pabrik kereta api mendesain gerbong-gerbong berkonstruksi ringan. Tidak ada keluarga, kerabat dan tetangga untk diajak ngobrol. Tidak ada hiburan. Bahasa Jerman juga pas-pasan. Pantaslah pak Habibie cinta luar biasa pada Bu Ainun, Beliau tidak pernah mengeluhkan segala hal kesulitan! Tidak pernah sedikitpun, tentang apapun dan termasuk pula untuk keberadaan 2 orang anak lelaki, Ilham dan Thareq.

Setelah lulus S3, Habibie ditawari pekerjaan oleh Talbot dan Boeing, dua industri konstruksi terkemuka. Pak Habibie menolak dan memilih untuk pindah ke Hamburg, dimana ia telah melamar dan diterima di perusahaan Hamburger Flugzeugbau HFB. Selepas itu, beliau menjadi pejabat penting perusahaan Messerschmitt Bolkow Blohm. Kemudian beliau dipanggil pulang oleh Presiden Soeharto untuk membangun industri dirgantara Indonesia dan menyumbangkan bakti kepada tanah air. Tidak lama setelahnya, Pak Habibie diangkat menjadi anggota Kabinet Pembangunan Pak Harto, menampuk jabatan Menteri Riset dan Teknologi. Beliau menjadi anggota kabinet selama beberapa periode kepemimpinan Pak Harto, kurang lebih 20 tahun lamanya.
Tahun 1998, ketika dilaksanakan pemilihan umum, Pak Harto secara mengejutkan menggandeng beliau sebagai pasangannya dalam pilpres. Sebuah keputusan yang tidak mudah, mengingat Indonesia sedang dilanda krisis ekonomi parah dan mulai banyak pihak yang mencoba menggoyang tampuk  kursi kepemimpinanya. Pak Habibie akhirnya menjadi Presiden RI ke-3. Bu Ainun juga menjadi ibu negara RI ke-3. Di tengah perjalanan kehidupannya bersama suami, Ainun pernah berkata,

Beliau (Ainun) berkata:

‘’Mengapa saya tidak bekerja ? Bukankah saya dokter ? Memang. Dan sangat mungkin saya bekerja waktu itu. Namun saya pikir : buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak, tapi untuk apa jika akhirnya itu akan diberikan pada seorang pengasuh anak bergaji tinggi, dengan resiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri ? Apa artinya ketambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang sendiri, saya bentuk sendiri pribadinya ? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak, seimbangkah orangtua kehilangan anak, dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja ? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami hidup begitu.’’
Dari segala yang di uraikan Pak Habibie, kita bisa belajar banyak. Walaupun bukan merupakan biografi beliau, cerita yang di uraikan di buku beliau, lebih seperti auto-biografi mengenai kehidupan rumah tangga Habibie-Ainun, namun kita dapat menangkap beberapa pemikiran Pak Habibie, mengenai dirinya sendiri, mengenai kehidupannya, serta mengenai Indonesia. Begitu banyak yang dapat dipetik dari buku ini. Termasuk juga Pelajaran menjadi seorang wanita, istri, maupun ibu. Pelajaran mencintai seseorang secara penuh dan utuh. Pelajaran menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar, serta banyak pelajaran lainnya. Dari tulisan Habibie, kita juga selalu menjumpai pesan-pesan dan unkapan perasaan beliau kepada sang istri selama menjalani kehidupan bersama.

Berikut ini kutipan isi surat Cintanya :

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu. Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi……

……Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.  Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada. selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku. 



....“Saya dilahirkan untuk Ainun dan Ainun dilahirkan untuk saya” 
Terimakasih Allah, engkau telah menjadikan Ainun dan Saya manunggal jiwa, roh, batin, dan hati nurani kami melekat pada diri kami sepanjang masa dimanapun kami berada... (doa B.J. Habibie).


Dari segala hal yang telah di uraikan dalam buku tentang Habibie dan Ainun,  Ada beberapa hal yang sangat  perlu kita ambil contoh dari dua insan terbaik bangsa Indonesia ini, dan kita jadikan sebagai pembelajaran dalam menjalani bahtera rumah tangga juga menghadapi suka-duka dalam kehidupan  :

1. Keduanya selalu berkomunikasi akan hal apapun
2.  Keduanya saling mendukung ketika sepakat akan suatu hal
3. Keduanya sangat religius dan luarbiasanya baik B.J Habibie dan Ibu Ainun selalu puasa senin- kamis dan selalu membaca al-Qur'an satu juz setiap hari.
4. Keduanya benar-benar seperti mewakafkan hidupnya demi bangsa, banyak kontribusi sosial yang mereka realisasikan, ICMI, PT. Habibie Center, ORBIT, sampai dengan pembinaan anak asuh. Mereka benar benar bermanfaat bagi orang banyak. 

Semoga dari kisah mereka, bisa menjadi suatu hal inspiratif bagi kita, bagi kaum muda penerus bangsa untuk terus berusaha menjadi lebih baik dan memberi yang terbaik.



Sumber : -http://www.kompasiana.com/pradiptasuarsyah
              -http://www.nanyaterus.com


Created : M.A sofyrah